Apa itu Electra Complex dan Oedipus Complex

March 12, 2012

Electra complex [Kompleks Electra] adalah istilah psikoanalisis yang digunakan untuk menggambarkan perasaan romantis seorang gadis terhadap ayahnya dan marah terhadap ibunya. Seperti halnya Electra complex, pada laki-laki juga terjadi Oedipal Complex [kompleks Oedipus].

Electra Complex dan Oedipus Complex

Menurut Sigmund Freud, perkembangan psikoseksual seorang anak perempuan pada awalnya melekat pada ibunya. Ketika ia menemukan bahwa ia tidak memiliki penis (gejala ini dalam psikologi disebut penis envy), ia menjadi melekat pada ayahnya dan mulai membenci ibunya, yang menganggap ibunya telah melakukan “pengebirian dirinya”. Freud percaya bahwa seorang anak perempuan kemudian mulai mengidentifikasi dan meniru ibunya karena takut kehilangan cinta ayahnya.

Istilah Electra Kompleks memang sering dikaitkan dengan Freud, namun sebenarnya Carl Jung telah menciptakan istilah ini pada tahun 1913. Freud sendiri menolak istilah tersebut, karena menggambarkan penyederhanaan upaya untuk memahami analogi antara sikap dari dua jenis kelamin. Freud sendiri menggunakan istilah Oedipus sebagai sebuah sikap feminin untuk menggambarkan apa yang sekarang kita sebut sebagai Electra complex [Kompleks Electra].

Sedangkan Oedipal Complex [kompleks Oedipus] merupakan suatu istilah yang digunakan oleh Freud dalam teorinya tentang tahap perkembangan psikoseksual untuk menggambarkan perasaan seorang anak laki-laki yang mencintai untuk ibunya, disertai rasa cemburu dan kemarahan terhadap ayahnya. Menurut Freud, anak laki-laki itu ingin memiliki ibunya dan menggantikan ayahnya. Oleh anaknya, sang ayah dilihat sebagai pesaing untuk mendapatkan kasih sayang ibunya. Oedipal Complex terinspirasi dari karakter di Sophocles [cerita kuno yunani] dimana ‘Oedipus Rex yang secara tidak sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya’.

21 Comments

Birkenstock on May 15, 2010 at 1:51 pm.

thanks for your sharing, this article is very helpful to us.

Reply

restry on May 29, 2010 at 10:52 am.

klo aku mbk..kurang simpati dengan teori Freud yang ini, yang saya pikir adalah rasa cemburu oleh anak itu menurut pendapat saya hanya sekedar rasa iri ingin dekat dan mendapat perhatian lebih, namun tidak sampai menimbulkan rasa kemarahan yang sangat besar. Di samping itu di era sekarang ini teori oedipus complex ini jarang terjadi-bahkan tidak pernah

Reply

yuli on June 16, 2010 at 3:20 pm.

mgkn wajar hal seperti terjadi

Reply

v2 on June 17, 2010 at 10:30 pm.

Thanx for article…nice article.

Reply

Atika on June 19, 2010 at 2:31 pm.

Bagimana pengaruh electra dan oedipus complex terhadap perkembangan kepribadian anak saat dewasa nantinya?

Reply

Mirna Yuliana on June 20, 2010 at 1:25 pm.

apakah ada kemungkinan oedipus dan electra complex bertahan hingga dewasa atau nantinya akan hilang seiring bertambahnya usia?

Reply

husna on June 25, 2010 at 4:35 pm.

saya juga kurang pas dengan teori freud ini terlalu berlebihan dan mungkin terpengaruh oleh mitologi yunani, anak2 tentu paham mana kasih sayang antara kedua orang tuanya yang bersifat pribadi dengan kasih sayang kedua orang tua pada anaknya.

Reply

Benny on October 27, 2010 at 12:49 am.

teori ini kan berkembang di barat, belum tentu cocok dengan pengalaman kita orang2 timur yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dalam bersikap. ^^

Reply

ivan handaja on December 9, 2010 at 8:34 am.

gimana oedipus ini dihubungkan dengan laki2 yang lebih menyukai wanita dewasa?

Reply

Media Wanita on January 8, 2011 at 12:18 pm.

Persis seperti yang dialami oleh teman saya yang menjalin hubungan dengan seorang pria Oedipus … Sampai bingung harus bagaimana menghadapin pria tersebut…

Reply

noor on May 28, 2011 at 3:54 pm.

this is bull shits. hati2 jangan mudah mengambil ‘pemahaman’ spt ini. justru masalah2 di muka bumi bermula dari suatu kepercayaan akan ‘hal2 aneh’ ini. ingat..Allah mengikuti prasangkaan hambaNYa. people create problems.. and hope we can change that from now..by people create problem solving and good deeds..
mending observe hal yang lain deh.. si Freud itu gak ada kerjaan.. gt deh..klo dah sok jadi ‘pemikir’… macam2 sj.semuanya di ‘complex’2kan.. hahay

Reply

Tyas on July 30, 2013 at 4:16 pm.

Setuju banget sama comment nya Mas Xpanzer. Untuk Mbak Noor, wawasannya dilebarin dikit. Bukannya si peniliti mau mengkompleks2an keadaan (complex = rumit), tetapi disini “complex” mempunyai arti level atau tingkat pengidapan yang sudah tinggi. toh juga, apa yang dituturkan Sigmund Freud dan Carl Jung dan peneliti lainnya ada benarnya difakta terbuka, beberapa orang mengalami masalah kejiwaan seperti tersebut. Apa yang telah tercetus pun berdasarkan pengamatan dan bukti (pengumulan data), tidak sembarangan. Hasil dari penelitian tersebut pula mengungkapkan sebab-akibat dan penanggulangan masalah itu, jadi setiap ilmu baru yang muncul pasti berfaedah. Semoga membantu pemahaman Mbak Noor.

Reply

xpanzer on August 13, 2011 at 4:05 pm.

sebenarnya hampir semua ilmu bersifat sekuler, dan kurang etis jika kita mengkultuskan suatu tokoh yang tak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan, ilmu dibuat untuk menyelesaikan semua masalah,….
silahkan aja deh coba kalau 1+1 = Tuhan maha tahu ?
entah dikasi nilai apa tuh oleh guru atau dosen,..
memang manusia tidak sempurna dalam teori dan praktek, tapi setidaknya ada tetapan dan parameter tertentu dimana hal tersebut bisa ” diasumsikan” atau “diabaikan”

ketika kita mendiskusikan masalah sains atau yang lainnya,.. bawalah argumen yang sifatnya ilmiah,..

kalau teori dibilang sok atau kurang kerjaan, berarti ilmu matematika, fisika, kimia juga dibilang sok / kerjaan ? trus motor yang anda pakai tiap hari itu pake ilmu apa ? penyedap masakan itu pake ilmu apa ?

aku bukan seorang psikolog, tapi aku juga mendalami sebuah ilmu,
dan ingat, kenapa manusia mencari ilmu ?

1. adanya rasa tidak puas dengan penyelesaian yang ada.
2. adanya rasa ragu – ragu
3. adanya rasa ingin tahu

mungkin kalo kita meributkan duluan mana ilmu dengan masalah sama dengan meributkan duluan mana ayam dengan telur, masalah menciptakan ilmu atau ilmu menciptakan masalah baru ?
dan yang jelas ilmu itu tidak pernah habis,,.. oleh karena itu kita menuntut ilmu sampai kita mati.

apalagi ilmu psikologi yang ” notabene” nya mempelajari kejiwaan manusia,.. sudah pasti di dalamnya membahas masalah kejiwaan yang dialami manusia.

jadi bukan masalah kurang kerjaan, tapi bergerak di bidang masing2,kalau anda kerja di bidang agama silahkan anda melihatnya dari sudut pandang agama, akan tetapi itu terbatas dilingkungan tertentu,…
kalau anda berbicara ilmu matematika berdasarkan hukum agama A, belum tentu agama B terima,…
oleh karena itu pakailah argumen atau apapun yang bisa diterima semua pihak.

terima kasih sebelum dan sesudahnya :)

Reply

xpanzer on August 13, 2011 at 4:06 pm.

sebenarnya hampir semua ilmu bersifat sekuler, dan kurang etis jika kita mengkultuskan suatu tokoh yang tak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan, ilmu dibuat untuk menyelesaikan semua masalah,….
silahkan aja deh coba kalau 1+1 = Tuhan maha tahu ?
entah dikasi nilai apa tuh oleh guru atau dosen,..
memang manusia tidak sempurna dalam teori dan praktek, tapi setidaknya ada tetapan dan parameter tertentu dimana hal tersebut bisa ” diasumsikan” atau “diabaikan”

ketika kita mendiskusikan masalah sains atau yang lainnya,.. bawalah argumen yang sifatnya ilmiah,..

kalau teori dibilang sok atau kurang kerjaan, berarti ilmu matematika, fisika, kimia juga dibilang sok / kerjaan ? trus motor yang anda pakai tiap hari itu pake ilmu apa ? penyedap masakan itu pake ilmu apa ?

aku bukan seorang psikolog, tapi aku juga mendalami sebuah ilmu,
dan ingat, kenapa manusia mencari ilmu ?

1. adanya rasa tidak puas dengan penyelesaian yang ada.
2. adanya rasa ragu – ragu
3. adanya rasa ingin tahu

mungkin kalo kita meributkan duluan mana ilmu dengan masalah sama dengan meributkan duluan mana ayam dengan telur, masalah menciptakan ilmu atau ilmu menciptakan masalah baru ?
dan yang jelas ilmu itu tidak pernah habis,,.. oleh karena itu kita menuntut ilmu sampai kita mati.

apalagi ilmu psikologi yang ” notabene” nya mempelajari kejiwaan manusia,.. sudah pasti di dalamnya membahas masalah kejiwaan yang dialami manusia.

jadi bukan masalah kurang kerjaan, tapi bergerak di bidang masing2,kalau anda kerja di bidang agama silahkan anda melihatnya dari sudut pandang agama, akan tetapi itu terbatas dilingkungan tertentu,…
kalau anda berbicara ilmu matematika berdasarkan hukum agama A, belum tentu agama B terima,…
oleh karena itu pakailah argumen atau apapun yang bisa diterima semua pihak.

terima kasih sebelum dan sesudahnya :)

Reply

anandita on September 5, 2011 at 3:40 am.

Jika seorang anak perempuan di masa lalunya tidak mendapatkan figur seorang ayah, lalu sebagai penggantinya mencari pasangan (sosok laki2) yg sekiranya dapat mengganti figur sang ayah yg “hilang”, apakah bisa dikatakan Electra Complex juga? Tapi ia tidak menganggap ibunya sebagai saingan dan justru amat memusuhi sang ayah. Mohon penjelasannya. Thanks

Reply

gwbanget on December 16, 2011 at 12:06 am.

suka ma cwek yg jauh lbh tua termasuk oedipus complex jg khan?!?!

Reply

SHON HAJI s,pSI. on December 26, 2011 at 1:57 pm.

buat anandita.
haltersebut bukan elektra, namun sebatas pencarian sesuatu yang umumnya dimiliki oleh banyak orang, yaitu ayah ibu yang harmonis. kasus anda menunjukkan anda tidak memiliki ayah ibu yang harmonis. sehingga anda akan lebih tertarik pada laki-laki yang beda karakter atau mungkin malah bertolak belakang dengan ayah anda. Hal ini suatu kewajaran. manusiawi saja.

Reply

lyla on April 12, 2012 at 12:34 am.

sebenernya sih ada banyak sekali kasus seperti ini, hanya saja kita tidak mengetahuinya
salah satunya adalah teman dekat saya yang baru2 ini bilang bahwa anaknya mengalami oedipus complex

Reply

Deedee on November 19, 2012 at 3:10 am.

Saya sangat setuju mengenai hal ini, saya seorang Sarjana Psikologi dan 1,5 th saya menjalani hubungan cinta dengan Pria Oedipus Complex dan hal ini benar adanya, dia sangat membenci bapaknya tanpa alasan yang dia tidak sadari. Sekarang saya akan banyak sekali menulis mengenai oedipus complex jika ada yang mau bertanya dan sharing, silakan hubungi saya melalui email.

Reply

risna on April 13, 2013 at 4:46 pm.

Setuju dengan xpanser. Tiap orang punya bidang ilmu masing2. Saya punya bidang ilmu tertentu, yg lain mungkin di bidang teknik, ekonomi, dan ada yg di bidang ilmu agama. Berbicara bidang ilmu agama, saya dan yg lain jg kurang lebihnya memahami ajaran agama masing2, Artinya kl memahami agama dg baik, tentunya tidak ada kalimat menghina bidang ilmu lain, krn tiap bidang ilmu memiliki pokok bahasannya masing2. Psikologi mmg ilmu kejiwaan yg mempelajari dinamika kepribadian individu beserta konflik2 yg dialami, jadi bukan kurang kerjaan. Apa yg terjadi pada diri anda adalah mungkin konflik dari manifestasi bentukan2 kepribadian yg tersusun dari pengalaman2 anda pada saat kecil, shg menjadikan anda pribadi yg memandang problem dari 1 sudut pandang. Terimakasih, have a nice weekend ^-^

Reply

ratna Utami on November 16, 2013 at 6:49 am.

Terima kasih atas informasinyaaa,,, mempermudah saya dl mengerjakn tugas

Reply

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



yhs-default : alis keatas : arti narsis : tentang audipuscomplex : Definisi odipus complex :