Lesbianisme, Gaya Hidup atau Abnormalitas Seksual?

March 12, 2012

Di Indonesia, Lesbianisme rupanya berkembang cukup pesat dalam wilayah sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, perempuan lesbi sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, tapi saat ini mereka berhimpun dalam wadah atau organisasi yang semua orang bisa mengetahuinya. Lihat saja, grup-grup lesbian yang bertebaran di Facebook maupun situs-situs dewasa lainnya. Lantas pertanyaannya, apakah Lesbianisme saat ini menjadi gaya hidup? Bukankah lesbian merupakan abnormalitas atau penyimpangan seksual? Sebelum menyimpulkan, Blog Dunia Psikologi akan mencoba menelisik apa itu lesbianisme.

Lesbian

Hasil Penelitian

Psikolog John Buss memperkirakan bahwa 2% dari wanita adalah seorang lesbian (Buss, 2004). Mungkin tidak lagi! Survei terbaru dari gadis remaja dan wanita muda menemukan bahwa sekitar hampir 15% perempuan muda saat ini mengidentifikasi dirinya sebagai lesbian, dibandingkan dengan sekitar 5% laki-laki muda yang mengidentifikasi sebagai gay (Ritch Savin-Williams and Geoffrey L. Ream, 2007).

Para peneliti di Cornell University, mengumpulkan sampel yang representatif dari wanita muda yang mencakup lebih dari 20.000 orang di 80 komunitas di seluruh Amerika Serikat, menemukan bahwa 85,1% wanita muda diidentifikasi sebagai heteroseksual; 0,5% melaporkan tidak ada identitas seksual; dan 14,4% sisanya adalah lesbian atau biseksual. Di antara pria muda, 94,0% mengidentifikasi diri mereka sebagai heteroseksual, 0,4% pria melaporkan tidak ada identitas seksual; dan 5,6% sisanya diidentifikasi sebagai gay atau biseksual.

Jangan khawatir penelitian tsb di Amerika. Proporsi di Indonesia bisa jadi lebih sedikit atau malah lebih tinggi, karena tentu budaya (kebiasaan, lingkungan, agama, dll) sangat mempengaruhi penelitian yang melibatkan orientasi seksual. Seperti yang terlihat di Eropa, misalnya, di Norwegia, lebih dari 20% anak perempuan dan wanita muda diidentifikasi sebagai lesbian (L. Wichstrøm and K. Hegna, 2003)

Lesbian dan Perubahan Cara Pandang dalam Psikologi

Lesbianisme sendiri berasal dari kata Lesbos. Lesbos adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.

Psikologi adalah salah satu disiplin pertama yang melakukan studi homoseksualitas sebagai sebuah fenomena. Sebelum dan selama sebagian besar abad ke-20, psikologi melihat homoseksualitas sebagai model perilaku yang patologis. Sebelum tahun 1970an, banyak penelitian psikologi menyimpulkan bahwa homoseksual merupakan perilaku yang abnormal. Sebagian besar subyek penelitian adalah laki-laki gay dan lesbian; subyek penelitian mayoritas diambil dari penjara, rumah sakit jiwa dan konsultasi psikolog. Penelitian ini banyak dikritik karena sampel yang diambil adalah subyek yang ‘tertekan’, orang-orang miskin, gaya hidup minoritas, dsb, bukan mewakili sebuah populasi.

Diawali dengan protes para aktivis gay yang dibantu oleh banyak psikiatris menyelenggarakan konvensi di San Francisco yang membahas hak-hak kaum gay. Pada pertengahan 1970an, telah terjadi pergeseran penting dalam psikologi tentang homoseksual, yang beranggapan bahwa homoseksual dan lesbian berada dalam kisaran ‘normal’ perilaku manusia. Puncaknya adalah homoseksual dibuang dari American Psychiatric Association’s (APA) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), atau yang lebih dikenal dengan DSM-III.

Data dari peneliti seperti Alfred Kinsey dan Evelyn Hooker, dan setelah pemungutan suara oleh para komite APA pada tahun 1973, yang dikonfirmasi oleh keanggotaan APA tahun 1974, menyimpulkan bahwa homoseksual bukan lagi termasuk gangguan mental, melainkan “gangguan orientasi seksual (sexual orientation disturbance) (Spitzer R.L., 1981).”

Pada tahun 1975, American Psychological Association (APA) merilis kebijakan resmi bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental (mental disorders), dan mendesak profesional kesehatan mental untuk mengambil langkah untuk menghilangkan stigma ‘penyakit jiwa’ yang telah lama dikaitkan dengan seorang gay dan lesbian.

Lesbian dan Seksualitas

Banyak yang mengira dari fisik jika perempuan tomboy kebanyakan adalah seorang lesbian, tentu saja tidak. Lebih dari 16% perempuan heteroseksual juga melaporkan tomboys menjadi sebagai anak perempuan. Hanya 3-4% dari laki-laki heteroseksual melaporkan ‘menjadi’ banci ketika muda. Jadi jika anda disebut banci (mengingatnya dan bersedia mengakuinya) adalah prediktor yang lebih kuat menjadi homoseksual daripada yang disebut sebagai gadis tomboy.

Mendefinisikan baik aktivitas seksual maupun identitas sosial seorang lesbian sampai saat ini memang terus diperdebatkan. Menurut penulis feminis, Naomi McCormick (1994), indikator orientasi seksual seorang lesbian adalah pengalaman seks dengan wanita lain. Namun, McCormick menyatakan menolak seks bebas antar wanita, dimana lebih mengedepankan hubungan emosional, dukungan, sensitivitas, dan kedekatan idealis antar perempuan adalah sebagai bagian terpenting daripada hubungan seksual. Pandangan para lesbian feminis (Anti-Pornography Feminism) ini sebetulnya pernah ditentang sebelumnya oleh lesbian yang lebih berorientasi seksual (‘Pro-Sex’ Feminism) pada 1980an, yang terkenal dengan “Sex Wars” (Duggan, Lisa and Nan D. Hunter. 2006).

Banyak dari kita yang penasaran tentang orientasi seksual seorang lesbian. Apa yang membuat orang lesbian? Tidak persis diketahui apa yang menyebabkan seseorang menjadi gay dan lesbian, tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal ini didasarkan pada faktor biologis individu. Orientasi seksual biasanya terlihat mulai pubertas. Meskipun orientasi seksual mulai berkembang sebelum kelahiran, cenderung berubah selama hidup seseorang. Naum ada pula yang menganggap faktor lingkungan yang lebih dominan.

Dahulu, untuk mengetahui orang tersebut lesbian atau gay digunakan alat ukur yang disebut Kinsey Scale. Alfred Kinsey (ahli psikologi yang turut memperjuangkan hak-hak gay) mengembangkan Kinsey Scale sebagai cara untuk menggambarkan orientasi seksual seseorang. Kinsey menemukan bahwa banyak orang tidak secara eksklusif gay atau lesbian, tetapi orientasi seksual mereka dapat di antara keduanya. Kategori-kategori Skala Kinsey antara lain :

0 — exclusively heterosexual
1 — predominantly heterosexual, infrequently homosexual
2 — predominantly heterosexual, but more than infrequently homosexual
3 — equally heterosexual and homosexual (bisexual)
4 — predominantly homosexual, but more than infrequently heterosexual
5 — predominantly homosexual, infrequently heterosexual
6 — exclusively homosexual

Hari ini, banyak peneliti menganggap Skala Kinsey terlalu sederhana. Mereka berpendapat bahwa orientasi seksual setiap orang mungkin lebih kompleks dari label dasar yang diberikan Kinsey. Setiap orang berbeda dan orientasi seksual setiap orang adalah unik. Orang dapat memilih untuk label orientasi seksual mereka yang mereka inginkan (menjadi gay, lesbi atau biseksual) dan banyak orang memilih tidak untuk label sama sekali (AntiSeks). Seperti kebanyakan orang di budaya barat, yang diajarkan bahwa heteroseksualitas adalah kualitas bawaan dalam semua orang. Ketika seorang wanita menyadari daya tarik seksual dan romantis wanita lain, lantas mengadopsi identitas lesbian, menantang apa yang masyarakat tawarkan dalam stereotip tentang heteroseksual.

Lantas apakah Lesbianisme merupakan sebuah gaya hidup ataukah abnormalitas seksual? Banyak kritik membangun yang diberikan pada Blog Dunia Psikologi saat menulis artikel ini. Sebelumnya kami juga mengklarifikasi tidak pernah menyebutkan lesbian adalah gangguan mental (mental disorder). Bagi banyak pembaca, kata Abnormalitas Seksual mungkin dianggap sama dengan Gangguan Mental (Mental Disorder). Padahal tidak ada maksud sedikitpun untuk menyamakan lesbian sebagai gangguan mental.

Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan yang mesti di ingat sebelum menyimpulkan adalah pada faktanya kaum lesbi menjadi sebuah gaya hidup para wanita ketika issue gender semakin menguat. Menuduh mereka abnormalitas secara seksual juga terlalu naif, karena belum ada penelitian lesbian di Indonesia. Bisa jadi semakin banyaknya lesbian Indonesia karena ‘ketidakmampuan’ laki-laki menempatkan perempuan dalam tempat yang seharusnya. Allah Bissawab.

Rujukan :

  • Spitzer R.L. 1981. The diagnostic status of homosexuality in DSM-III: a reformulation of the issues. The American Journal of Psychiatry. PMID.
  • Buss, David. 2004. Evolutionary Psychology: The New Science of the Mind. Pearson
  • Savin-Williams RC, Ream GL. 2007. Prevalence and stability of sexual orientation components during adolescence and young adulthood. Archives of Sexual Behavior, volume 36. International Academy of Sex Research
  • Wichstrøm, L. and Hegna, K. 2003. Sexual orientation and suicide attempt: A longitudinal study of the general Norwegian adolescent population,” Journal of Abnormal Psychology, volume 112.
  • McCormick, Noami. 1994. Sexual Salvation: Affirming Women’s Sexual Rights and Pleasures, Praeger Publishers.
  • Duggan, Lisa and Nan D. Hunter. 2006. Sex Wars: Sexual Dissent and Political Culture. New York City: Routledge.
  • Kartini Kartono. 1985. Psikologi Abnormal & Pathologi Seks. Penerbit Alumni. Bandung

36 Comments

liudin on January 24, 2010 at 7:06 am.

apakah tidak ada ciri-ciri atau sifat khusus seorang lesbian? hal ini untuk menghindari yang namanya salah paham ketika berhubungan.

Reply

astaga.com lifestyle on the net on January 25, 2010 at 9:55 am.

Mungkin Lesbianisme sebagai gaya hidup atau abnormalitas seksual meiliki peranan penting dalam maraknya lesbian di indonesia,semoga saja ada terapi atau pengobatan yang dapat menyembuhkan lesbian….

Reply

avartara on January 29, 2010 at 4:46 pm.

Menurut saya lesbianisme lebih cendrung ke abnormalitas seksualitas, apakah bisa menjadi sebuah gaya hidup, tentu saja iya, walau si pelaku terhukum dengan norma agama dan susila.

Reply

sidik on February 6, 2010 at 5:34 am.

Pelampiasan hasrat sexual merupakan satu kebutuhan manusia. Dengan terlampaskannya hasrat manusia akan merasa senang seperti sekresi jika tidak terlampiaskan akan menimbulkan dampak pada fisik dan sedikit psikis. Namun lain halnya dengan hasrat seksual, tak terlampiaskan akan menimbulkan dampak psikis yang hebat.
Penyimpangan itu hanyalah istilah moral yang umum. Karena faktor sosial yang mengecewakan membuat dia melampiaskan dalam wujud yang lain. Jadi wajar jika dia melakukan dengan sesama jenis, lawan jenis maupun dengan hewan.
Nah jika dengan kacamata moral, di eropa diakui lain halnya di Indoensia karena moral dan agama masih mewarnai hal tersebut masih debatable. Selamat berjuang para lesbian untuk memperjuangkan eksistensi yang nyaman dan diakui.
Untuk yang beragama hal tersebut adalah dosa dan balasannya adalah neraka. Siksaan yang akan di berikannya dan aku juga berdiri disisi ini dan yakin bahwa Tuhan telah memberikan ajaran yang sesuai dengan kefitrian manusia.

Reply

Restry on February 6, 2010 at 7:24 pm.

lesbian masih termasuk abnormal ya mbk..klo homo bukannya udh gak masuk ke kategori abnormal?

Reply

WAHYUDHIN on March 3, 2010 at 3:22 pm.

ya mudah-mudahan mereka yang senang dengan sejenis di berikan pasangan hidup yang baik sehingga tak ada rasa takut,sakit hati sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia

Reply

blue_cat on March 3, 2010 at 7:58 pm.

Lesbian bukanlah sebuah penyakit, sehingga tidak tepat untuk dikatakan perlu disembuhkan..
Mungkin lesbian adalah suatu abnormalitas, tetapi cukup tidak adil untuk menghujat dan memandang negatif mereka.
siapa sih yang mau jadi lesbian, mungkin jika tanya ke mereka, mereka juga gak akan bangga tentang kelesbianan mereka..
kami memang complicated..

Reply

sari on July 1, 2012 at 7:00 am.

Aku setuju dengan pendapat lo, thanks

Reply

ara on March 4, 2010 at 9:44 am.

lesbi sbnrya dah byk di sktr kita, cuna kdg kita g peka aj.

Reply

alexa on March 15, 2010 at 7:30 pm.

saya ingin mengetahui sisi baik dari seorang lesbian,saya ingin mengetahui perasaan terdalam mereka(bagaimana cara mereka mencintai)…karena banyak orang menganggap perilaku mereka adalah bentuk penyimpangan seksual dan abnormal..dan apakah dalam hati mereka masih ada nurani(suara Tuhan)…?

Reply

anoi on March 25, 2012 at 4:42 am.

istilah normal dan tidak normal berasal dari manusia, seorang wanita yg menyukai pria menyebut dirinya normal, begitu jg sebaliknya. Tuhan menciptakn manusia dengan perasaan, setiap manusia mencinta dan menyayangi dengan perasaan, bukan karena paksaan ataupun kebiasaan. lalu knp jika wanita mencintai pria di sebut normal dan ketika wanita mencintai wanita atau pria yg mencintai pria karena prasaanya di sebut tidak normal? begitu sempit pemikiran kita jika hnya terbatas pada seorang wanita dan pria yg hanya blh saling mencintai. manusia lah yg mnjadikan manusia lainnya tidak layak atu kelihatan aneh krn plihan hidupnya. sementra Tuhan melengkapi smua makhluk hidup dengn perasaannya tanpa memberi batasan.

Reply

sahrudin on August 21, 2012 at 4:27 pm.

tuhan menciptakan manusia dgn sempurna dilengkapi dgn hati nurani, akal dan nafsu, tuhan jga melengkapinya dgn perasaan, dan kasih sayang, tapi tuhan jga memberikan batasan2nya perasaan suka sesama jenis itu bukan kehendak tuhan atau anugrah dari tuhan, akan tetpi dorongan dari nafsu yang selalu diikuti, bagi mreka yg mengalaminya tidaklah pantas mengatakan bahwa lesbian itu bagian dari anugrah tuhan krn tuhan tdk pernah salah dalam hal apapun.

Reply

sari on July 1, 2012 at 7:03 am.

Cewek lesbian masih ada hati nurani alexa, bukti nya saya..

Reply

bambang smaradahana on May 10, 2010 at 8:20 pm.

Kalau saya lihat riwayat hidup para bintang porno, ternyata banyak di antara mereka yang berubah jadi lesbi atau biseksual. Kayaknya klo jadi cewe lebih enak yang biseksual ya…dua2nya bisa….hehehe

Reply

Putry pratama on May 31, 2010 at 4:47 pm.

menurut saya, seseorang menjadi lesbi bisa disebabkan berbagai faktor, baik internal maupun eksternal…
mungkin salah satunya karena faktor keluarga atau masa lalu yang kurang menyenangkan….
bisa juga mungkin hanya awalnya ikut-ikutan, tapi lama-lama malah menjadi-jadi dan akhirnya lesbilah dia..
tapi ini hanya opini saya, jangan dijadikan patokan

Reply

Atika on June 19, 2010 at 2:34 pm.

Faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang menjadi lesbian?

Reply

megha on July 31, 2010 at 5:49 am.

saya setuju dengan pertanyaan di atas ada gk mba ciri2 yang jelas tentanng orang yang lesbi..?????tentuny agar kta bisa mengthaui kalo seseorang itu lesbi dan kta bisa menghindariny tanpa bertanya pada seorang itu…..

Reply

salman faris on November 15, 2010 at 4:34 pm.

Setuju sekali jika lesbian tidak ditempatkan pada gaya hidup ataupun abnormalitas

Karena pergeseran nilai di dunia berdasar pada penelitian-penelitian juga tidak menganggapnya suatu abnormalitas

Dan juga di indonesia, trutama pengamatan saya terhadap komunitas-komunitas, maupun group-group pergaulan lesbian di surabaya banyak sekali dijumpai remaja-remaja yang sudah melakukan perilaku-perilaku yanhg menjurus ataupun memodelling perilaku lesbi hanya karena latar belakang pribadi yang broken home dan juga didukung dengan faktor eksternal berupa media-media informasi maupun hiburan yang juga memberikan pengaruh model terhadap perilaku lesbian secara simple. Contoh yang paling mudah seperti gaya dandanan / fashion sampe industri musik yang menciptakan sosok idol perempuan tomboy yang secara tidak langsung menciptakan gaya hidup dari kaum lesbian itu sendiri.

Reply

sophie on July 23, 2011 at 9:24 am.

Lesbian/homo adl penyimpangan seksual, baik org yang melakukannya mau dibilang menyimpang atau tidak, dan meskipun memiliki pendukung. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ini dibiarkan, manusia bisa musnah, ga ada keseimbangan dlm alam, krn bagaimanapun juga Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang2an.
Bayangkan seluruh sepatu di dunia ini kiri semua. Bayangkan sepanjang hari malam dan siang diisi oleh bulan semua, bayangkan jika di dunia ini hanya ada cahaya tanpa bayangan, ini fitrah yang telah Tuhan ciptakan, ayam saja tahu mana yang jantan mana yang betina. Saya tidak sedang menjudge kaum L/H. Sebaiknya orang2 seperti itu kita bantu secara psikis dan moral. Bukan semata direndahkan lalu ditinggalkan tanpa adanya bantuan karena mereka hanya sedang tergelincir itu saja.

Reply

Thaha on October 3, 2011 at 4:03 pm.

setuju sekali sama sophie,
dulu saya pernah berhubungan dekat dengan perempuan yang memiliki kecendrungan lesbian, saat mengetahui hal tersebut dari dirinya serta alasan kenapa dia menyukai perempuan(saya adalah anak laki laki normal 17thn yg ada dimana2)rasanya sedih juga melihatnya begitu, Dia tau bahwa hal ini adalah salah, tapi dia juga tidak bisa membuang lesbian dalam dirinya. Pada akhirnya Teman baik saya itu menjauh dan seperti memutuskan hubungan dengan saya karena dia merasa malu, rasanya mengganjal di hati sekali~^, tp aku mengabaikan perasaan tersebut karena fokus ke sekolah(Saya melanjutkan SMA di luar daerah)sampai sekarangpun masih kepikiran bagaimana kabarnya…makanya saya setuju dengan pendapat MB/MS sophie, kita tidak benar jika membiarkan, menyakiti apalagi merendahkan mereka, terutama bagi kita yang laki-laki. Ingatlah kita lahir dari seorang perempuan, jika ada hal yang dapat kita bantu, bantulah mereka

Reply

Cocaina on November 29, 2011 at 3:55 pm.

menarik yah….

tanggapan temen2 semua tentang Isu orientasi Homoseksual, khususnya lesbian seperti yang di bahas sedikit oleh admin diatas.. sangat tidak dipungkiri lagi bahwa isu itu menjadi pro dan kontra belakangan ini.. alangkah lebih baik lagi saat kita mencoba menganalisisnya setelah kita mengerti tentang informasi2 berkaitan dengan seksualitas, karena dalam seksualitas mengupas tuntas masalah2 dari kesehatan reproduksi sampai orientasi seksual. .so mari belajar tentang pendidikan seksualitas dahulu untuk dapat menelaah isu tentang homoseksualitas agar menghindari diskriminasi dan lain sebbagainya… mari belajar :)

Reply

abd. wahidin on January 24, 2012 at 2:36 pm.

Dunia ini memang sudah diputar balikkan……
yang harus kita persiapkan saat ini memupuk keimanan, amal yang shaleh dan ilmu yang baik…

Reply

sweetia murni on May 13, 2012 at 4:01 pm.

lesbian itu memang membingungkan dan saya sendiri ga bisa membedakan mana wanita normal n yang lesbian, habis kdg terlihat sama saja dengan wanita normal. malah kdg bisa kebalik yang kayak laki malah normal tp yang terliahat feminim eh malah dia lesbian sejati. tp juga ini ga bisa jadi patokan untuk semua wanita yang kita jumpai

Reply

poedji on June 21, 2012 at 1:05 am.

Wah sayang sekali kalau ini disebut blog psikologi tapi tidak mengunakan ilmu psikologi sama sekali padahal sudah jelas dalam DSM III, WHO, PPDGJI disebutkan bahwa Homoseksualitas bukan sebuah gangguan atau bukan abnormalitas. Homoseksualitas adalah sebuah orientasi seksual dan lesbian adalah identitas gender. Tolong jangen menyesatkan masyarakat dengan opini yang salah.

Reply

Admin on June 21, 2012 at 2:57 am.

@Pudji : Terima Kasih atas tanggapannya. Benar sekali bhw Homoseksual telah dipindahkan dari DSM III tahun 1974, bukan lagi merupakan gangguan mental (mental disorder). Tulisan diatas hanya mencoba menelusuri lesbian didasarkan tulisan Kartini Kartono dalam bukunya Psikologi Abnormal & Pathologi Seks hal 179 (Penerbit Alumni, 1985, Bandung). Dan sama sekali tidak ada usaha kami untuk menyesatkan masyarakat seperti yang anda tuduhkan. Tolong baca kembali akhir dari tulisan yang menyebutkan “Menuduh mereka abnormalitas secara seksual juga terlalu naif, karena kaum lesbian di Indonesia belum ada yang diteliti penyebabnya”. Yang artinya, kami malah ingin meluruskan kembali pandangan bahwa ‘TIDAK BOLEH’ menjustifikasi sesorang abnormal atau tidak dengan hanya dugaan/prasangka semata.

Salam Hangat
Dunia Psikologi

Reply

Lian on July 8, 2012 at 5:22 am.

menurut saya lesbianisme tidak jauh dari abnormalitas seksual yang sebenarnya ditimbulkan oleh dirinya sendiri, mengapa begitu karena pada realita kehidupan saya banyak dikelilingi dengan para lesbianisme dan homonisme mereka mengaku cenderung tidak dapat mengontrol gejolak atau hasrat seksual dari dalam dirinya. andai saja mereka mampu menahan hasrat seksualitas yang tidak wajar itu , mungkin mereka bisa hidup normal dengan hasrat seksualitas yang wajar.

Reply

aziz on August 2, 2012 at 2:52 pm.

Mau di tinjau dari berbagai keilmuan manapun baik di sebut abnormalitas secara seksual atau lesbian sebagai identitas atau kelainan orientasi seksual, terlepas semua itu salah atau benar, kebebasan berorientasi dan kebebasan memilih jalan hidup semuanya melalui proses berjalannya akal, fikiran,nurani dan nafsu,,tergantung mana yang terus di pupuk dan kemudian mana yang akan dominan untuk tumbuh dan akhirnya kalian yakini sebagai pembenaran, kemudian menjadi sesuatu yang ideal yang pantas untuk diperjuangkan,”pertanyaannya sederhana peradaban itu butuh regenerasi para pelaku peradaban,,Mungkinkah jika peradaban itu hanya di isi para lesbian atau homoseksual?” silahkan terus teriakkan slogan “Cinta dan kasih sayang tidak mengenal jenis kelamin” di situlah sebenarnya akal sehat itu di tantang untuk membuat jawabannya!!

Reply

evan on August 9, 2012 at 2:30 pm.

Lesbian bukan karena “menjadi” atau terbentuk dari sebab akibat. Lesbian adalah terlahir. Merasakan ‘into it’ sebagai seorang lesbian.Its feel like truly you. And one more important things, this is not only about sex, sex wouldnt be so beautiful and amazing if there is no feeling ‘into it’

Reply

sinichi on August 23, 2012 at 9:22 am.

ini mungkin di anggap perilaku menyimpang ,.. tetapi pasti ada penyebab yang membuat seseorang mnjadi seperti itu ….

Reply

Hamba Allah on September 8, 2012 at 1:39 pm.

Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika dunia berada hampir di penghujungnya, kamu dapati maksiat dilakukan secara terang-terangan. Zina dilakukan dengan sewenang-wenangnya persis seperti perilaku haiwan. Yang tinggal hanyalah manusia yang keji dan buruk perangainya. Ketika itulah berlakunya kiamat. (H.R. Muslim)

Nauzubilahiminzalik

Reply

Gelora Sriwijaya on September 9, 2012 at 5:24 pm.

menurut saya sih, lesbi itu perilaku yg dibuat sndiri oleh pelakunya..
mereka sebenarnya tw kok it salah tp blang g bisa balik lg krna dah terlalu jauh masuk ke dalam lingkungan g jelas it..

Reply

haririski on September 11, 2012 at 2:14 pm.

ada gak ciri-ciri spesifik cewek biseks?

Reply

Haris on January 7, 2013 at 4:03 pm.

menurut saya faktor serang lesbian itu karna lingkungan yang tidak mendukung, contohnya karna teman2nya cuma perempuan dan tidak berani untuk berinteraksi dengan laki2. faktor lain juga karna mereka ada rasa ragu2 terhadap memlih pasangan laki2, mungkin karna mereka trauma karna pernah di sakitin yg begitu parah, mungkin juga karna banyak temen si pelaku yang suka cerita tentang kejelekan2 laki2 membuat dia tidak tertarik dengan laki2

Reply

Putriyangdibuang on January 12, 2013 at 9:21 am.

Hmmm.. LESBI ITU INDAH DAN SANGAT BERWARNA SIAPAPUN TAK MENGINGINKAN DALAM JERATNYA TAPI BILA SUDAH TERKUBANG DALAM LUMPURNY YAA…MANA TAHAN..HEE.. TP AQ YKIN DGN BRJLN WKTU MREKA AKN SADAR DAN AKN BRFIKIR..:)

Reply

ronji on January 22, 2013 at 3:17 pm.

saya sudah merasa ada nurani tentang ini sejak kecil, yang intinya adalah saya memandang bahwa “perempuan sangat indah” (perempuan tertentu menurut penafsiran saya). Kemudian saat ada teman yang juga sama-sama demikian, kami berkompromi dan membuat perjanjian, yaitu kami akan seperti ini untuk beberapa bulan kedepan. Akhirnya kami memanng harus berpisah menaati perjanjian yang kami buat sendiri. Saat ini kami berdua baik-baik saja. Dan saya, saat ini, masih memandang bahwa “perempuan tertentu sangat indah dan menarik” karena memang belum ada calon suami yang saya anggap cocok.
Maaf, sekedar berbagi melalui comment.
Terima kasih.

Reply

fai on January 23, 2013 at 7:54 am.

ya gpp kan kalo lesbian.. :) selama tidak mengganggu orang lain gak masalah kan..

Reply

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



NARSIS : ilmu psikologi tentang pria : fenomena lesbi di kalangan remaja putri : cerita seks perselingkuhan : aspek-aspek yang mempengaruhi motivasi menurut morgan :