Perkembangan Sosial Anak-Anak

February 2, 2012

Perkembangan Sosial Anak-Anak. Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial.

Perkembangan Sosial Anak-Anak

Menurut Yusus (2002), bentuk-bentuk tingkah laku sosial pada usia anak itu adalah sebagai berikut: a) pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut. b) Agresi (agression), yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya) yang dialaminya. Agresi ini mewujud dalam prilaku menyerang, seperti, memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki. c) Berselisih atau bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan prilaku anak lain, seperti diganggu pada saat mengerjakan sesuatu atau direbut barang atau mainannya. d) Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan). Sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya. e) Persaingan (rivarly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (distimulasi) orang lain. f) Kerja sama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat sikap self centered-nya. g) Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness wujud dari tingkah laku ini, seperti meminta, menyuruh dan mengancam atau memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya. h) Mementingkan diri sendiri (selfishness) yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. i) Simpati (Sympaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengurangi sikap selfish-nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.

Sedangkan menurut Hurlock (1980 : 81) perilaku sosial anak-anak pra sekolah dapat dikategorikan menjadi dua pola yaitu pola perilaku sosial dan tidak sosial:

a) Pola Sosial. 1) Meniru. Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia kagumi, 2) Persaingan. Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain. 3) Kerjasama. Pada akhir tahun ketiga bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat dengan baik dalam frekwensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain, 4) Simpati. Karena simpati menumbuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain. 5) Empati. Seperti halnya simpati, empati menumbuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. 6) Dukungan Sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak, dukungan sosial dari teman menjadi lebih penting daripada persetujuan dari orang-orang dewasa, anak beranggapan bahwa perilaku nakal dan perilaku mengganggu merupakan cara untuk memperoleh dukungan dari teman-teman sebaya, 7) Membagi. Dari pengalaman bersama orang-orang lain, anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan sosial adalah dengan membagi miliknya terutama mainan untuk anak-anak lain, lambat laun sifat diri sendiri berubah menjadi sifat murah hati, 8) Perilaku Akrab. Anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang hangat, erat dan personal dengan orang lain berangsur-angsur memberikan kasih sayang kepada orang luar rumah, seperti guru taman indria atau benda-benda ini disebut obyek kesayangan.

b) Pola Tidak Sosial. 1) Negativisme. Negativisme atau melawan otoritas orang dewasa, 2) Agresif. Perilaku agresif meningkat antara usia dua atau empat tahun, 3) Perilaku Berkuasa. Perilaku Berkuasa atau merajai mulai usia sekitar tiga tahun, 4) Memikirkan Diri Sendiri. Karena cakrawala sosial anak terutama terbatas di rumah, anak-anak seringkali memikirkan diri sendiri, dengan meluasnya cakrawala lambat laun perilaku memikirkan diri sendiri berkurang tetapi perilaku murah hati masih sangat sedikit, 5) Mementingkan Diri Sendiri. Seperti halnya perilaku memikirkan diri sendiri lambat laun diganti oleh minat dan perhatian kepada orang-orang lain, cepatnya perubahan ini bergantung pada banyaknya kontak orang-orang di luar rumah dan berapa besar keinginan mereka untuk diterima teman-temannya, 6) Merusak. Ledakan amarah sering disertai tindakan-tindakan merusak benda-benda di sekitarnya, 7) Pertentangan Seks. Sampai empat tahun anak laki-laki dan perempuan bermain bersama-sama dengan baik, setelah itu anak laki-laki mengalami tekanan sosial yang tidak menghendaki aktivitas bermain yang dianggap sebagai banci banyak anak laki-laki yang berperilaku agresif yang melawan anak-anak perempuan, 8) Prasangka. Sebagian besar anak pra sekolah lebih suka bermain dengan teman-teman yang berasal dari ras yang sama, tetapi mereka jarang menolak bermain dengan anak-anak dari ras lain.

Pada usia pra sekolah (terutama mulai sampai empat tahun), perkembangan sosial anak mulai nampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Menurut Yusus (2002) tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah : a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain. b) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada aturan. c) Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain. d) Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain atau teman sebaya (peer group)..

Rujukan Buku :
Hurluck, E. , 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd.

Artikel Perkembangan Sosial Anak-Anak pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 19 November 2008

5 Comments

ifan on February 10, 2010 at 10:16 am.

bagus blognya, mau tanya ada lebih detail lagi selain ini ttg anak2 ?

Reply

evo on April 17, 2010 at 1:44 pm.

saya ingin bertanya tentang upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk perkembangan hubungan sosial pada usia remaja?

Reply

Iin Khoirunnisa on June 20, 2010 at 12:39 pm.

anak-anak memang akan lebih senang bermain dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orangtuanya. yang harus dilakukan orangtua pada saat ini hanyalah melakukan pengawasan yang lebih ketat tanpa harus melarang mereka untuk bergaul dengan teman-temannya…

Reply

Fahmi Dini Hanifa on June 21, 2010 at 12:38 pm.

Orangtua hendaknya mengetahui tugas perkembangan apa yang harus dicapai oleh anak-anaknya ,, karena agar tercipta sumber daya manusia yang lebih berkualitas

Reply

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



istilah psikologi tentang perasaan yang jadi satu disebut apa : apa arti depresi : psikolog wanita yang selingkuh : faktor-faktor dalam sebuah persepsi : contoh ciri-ciri konsep diri :